banner 728x250

Mahasiswa Jikom Undana Bersama WALHI NTT Gelar Eco-Talk Bertajuk: Menguak Mitos dan Fakta Seputar Lingkungan Hidup

banner 120x600
banner 468x60

NTT||Suarafaktual.com
Mahasiswa Magang MBKM Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana bersama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Daerah Nusa Tenggara Timur (WALHI NTT) menggelar diskusi Eco-Talk : Membahas Masa Depan Bumi dengan topik “Menguak Mitos dan Fakta, Seputar Lingkungan Hidup” yang digelar di Kantor WALHI NTT, Jl. Budi Utomo III, Kota Kupang yang dihadiri oleh 23 peserta. Pada hari, Selasa (27/10/2023)

Kegiatan diskusi ini menghadirkan 4 narasumber yaitu Umbu Wulang Tanaamah Paranggi sebagai Direktur Eksekutif WALHI NTT, Norman Riwu Kaho sebagai Ketua FPRB Provinsi NTT, Maria Bernadeth Tukan sebagai: _Youth Engagement Officer_ Yayasan PIKUL _Voice for Just Climate Action_, dan Radit Giantiano sebagai _Extinction Rebelliton_ Kupang. Diskusi ini dipandu oleh Cardan Amheka sebagai Moderator dan Unique Pandie sebagai _Master Of Ceremony_.

banner 325x300

Tujuan digelarnya diskusi ini yaitu untuk menguak bagaimana realita yang terjadi baik dalam ranah mitos maupun fakta tentang lingkungan yang akan dibahas dalam berbagai perspektif baik itu akademisi, pemerhati lingkungan, dan anak muda juga untuk memberikan pemahaman lebih jauh tentang lingkungan dan bagaimana peran anak muda untuk memberikan sumbangsih terhadap lingkungan. Sehingga diskusi ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk bertanya dan memberikan pemahaman berkaitan dengan isu lingkungan dan bisa menjadi media kampanye dan advokasi bagi anak muda berkaitan dengan isu lingkungan.

Dalam diskusi kali ini Direktur Eksekutif WALHI NTT, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi memberikan bantahan terhadap pernyataan tentang Nusa Tenggara Timur krisis air, menurutnya pernyataan itu lebih kuat mitosnya dibandingkan faktanya.

”Misalnya Kota Kupang, hampir semua daerah itu namanya OE, OE itu artinya air dan kita tau bahwa pandangannya orang tua kita dahulu selalu mencari sumber kehidupan tentu tidak bisa jauh dari sumber air,” ujar Direktur Eksekutif WALHI NTT, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi.

Sebetulnya NTT merupakan provinsi kepulauan yang kalau dilihat di beberapa wilayah memang ada yang krisis akan air salah satunya di Sabu, namun secara keseluruhan NTT tidaklah krisis air namun kita mengalami krisis keadilan karena pemerintah tidak mampu untuk mendistribusikan air kepada rakyatnya yang kemudian diambil alih oleh pihak swasta.

Selain itu Ketua FPRB Provinsi NTT, Norman Riwu Kaho memberikan pendapatnya mengenai pembangunan di NTT telah menggunakan konsep adaptasi perubahan iklim merupakan fakta atau mitos. Menurutnya, pembangunan di NTT yang menggunakan konsep adaptasi perubahan iklim belum maksimal dan masih jauh dari harapan.

“Kalau kita hanya taruh beban tersebut di pemerintah semata, oleh karena itu sekarang kita mulai bergerak, bukan hanya pemerintah, pemerintah hanya salah satu aktor, tapi bagaimana aktor-aktor lain dalam heliks-heliks tersebut mampu bergerak,” tegas Norman Riwu Kaho.

Ia berharap semua pihak harus mempunyai kesadaran masing-masing, sehingga pemerintah yang menjadi penggerak, akademisi, perguruan tinggi, pers media, wirausaha, serta masyarakat itu sendiri harus bergandeng tangan dan bekerja bersama-sama, model kerja seperti inilah yang menurut Norman akan membangun NTT.

Tak hanya Norman Riwu Kaho, Maria Bernadeth Tukan memberikan pendapatnya mengenai pelestarian hewan endemik di NTT, menurutnya pembagian flora fauna bagi daratan NTT dan Sulawesi sama yaitu perpaduan antara asiatis dan australis sehingga kita disebut endemik dan benar-benar endemik.

“Karena kita di NTT ini bisa dikatakan paling unik diantara lain karena kita punya cirinya, dan kalau di NTT sendiri sebenarnya banyak sekali flora dan fauna yang endemik tapi kita hanya fokus pada beberapa spesies saja,” tutur Maria Bernadeth Tukan selaku Youth Engagement Officer Yayasan PIKUL Voice for Just Climate Action.

Kurangnya perhatian pada beberapa hewan endemik di NTT sehingga menjadi terabaikan, membuat orang-orang hanya fokus saja pada beberapa hewan endemik padahal NTT memiliki banyak sekali hewan endemik yang patut diberi perhatian lebih.

Menurut Radit Giantiano dari Extinction Rebelliton Kupang, kalau dilihat akhir-akhir ini, anak muda sangat sadar akan masalah iklim dan lingkungan, bisa dilihat banyak di daerah-daerah maupun di Kota Kupang sebagian anak muda sudah sadar karena sekarang di Indonesia dilanda banyak sekali bencana alam, dan itu membuat mata anak muda sadar akan pentingnya menjaga alam. Tetapi pergerakan anak muda masih sedikit, sebenarnya banyak anak muda yang semangat namun belum kuat untuk bersuara untuk melakukan aksi-aksi langsung di lingkungan sehingga membutuhkan dorongan yang kuat dari pemerintah.

Kabiro TTS |YM|

banner 325x300